Max Verstappen menjadi pembalap tercepat dalam simulasi long run pada sesi latihan bebas kedua Grand Prix Formula 1 di Malaysia. Pembalap Red Bull itu mencatat performa terbaik menggunakan ban medium setelah perhitungan disesuaikan dengan perbedaan panjang stint dan kompon yang dipakai masing-masing tim.
George Russell dari Mercedes berada di posisi kedua dengan selisih 0,19 detik per lap, disusul Charles Leclerc dari Ferrari yang tertinggal 0,32 detik. Red Bull juga menunjukkan kecepatan kuat dalam simulasi satu putaran maupun jarak balapan. Namun, perbedaan waktu di barisan depan masih terlalu rapat untuk menentukan urutan kekuatan secara pasti setelah dua sesi latihan Jumat.
Mercedes belum bisa menilai dampak pembaruan
Performa Mercedes menjadi salah satu perhatian utama karena tim tersebut membawa paket pembaruan besar ke Malaysia. Setelah dua sesi latihan, tim belum dapat memastikan seberapa efektif komponen-komponen baru itu atau seberapa besar potensi mobil hasil revisi tersebut.
Dibandingkan balapan sebelumnya di Azerbaijan, Mercedes terlihat kehilangan sebagian kecepatannya. Meski demikian, karakter sirkuit Malaysia membuat perbandingan itu tidak sederhana. Lintasan dengan aspal abrasif serta banyak tikungan berkecepatan tinggi dan menengah memberikan tekanan besar terhadap ban.
Mercedes beberapa kali kesulitan dalam pengelolaan ban pada kondisi serupa. Karena itu, Malaysia secara historis bukan lintasan yang paling menguntungkan bagi tim tersebut. Situasi ini membuat dampak sebenarnya dari paket pembaruan Mercedes masih sulit dipisahkan dari tantangan karakter sirkuit.
McLaren tertahan di sektor kedua
McLaren menempati posisi keempat dalam analisis long run melalui Lando Norris, dengan selisih 0,43 detik dari Verstappen. Oscar Piastri berada di urutan keenam, terpaut 0,78 detik. Hasil itu sementara menempatkan McLaren sebagai kekuatan keempat di belakang Red Bull, Mercedes, dan Ferrari.
Kehilangan waktu McLaren paling terlihat di sektor kedua, yang diisi tikungan berkecepatan menengah dan tinggi—karakter yang secara teori seharusnya cocok dengan mobil mereka. McLaren justru tampak lebih kompetitif di sektor pertama dan ketiga, ketika kecepatan puncak memiliki pengaruh lebih besar.
Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah setelan mobil. McLaren mungkin menggunakan tingkat downforce yang relatif rendah sehingga kehilangan waktu di tikungan cepat. Namun, apakah persoalan itu sepenuhnya terkait setelan atau dipengaruhi faktor lain masih memerlukan analisis lebih lanjut.
Degradasi ban membuka peluang strategi dua pit stop
Di papan tengah, Alpine, Racing Bulls, dan Audi terlibat persaingan ketat. Pierre Gasly menjadi yang tercepat dari kelompok tersebut dengan defisit 1,28 detik per lap. Liam Lawson tertinggal 1,63 detik, sementara Nico Hülkenberg berada 1,75 detik di belakang Verstappen.
Audi terlihat lebih cocok dengan karakter Malaysia dibandingkan saat tampil di Baku. Jika Azerbaijan lebih menuntut kecepatan puncak, Malaysia lebih menguji performa di tikungan dan pengelolaan ban. Aston Martin juga membaik dengan selisih 1,97 detik. Sebaliknya, long run Haas, Williams, dan Cadillac masih kurang menjanjikan, masing-masing tertinggal 2,04 detik, 2,58 detik, dan 2,92 detik.
Hujan yang diperkirakan turun menjelang akhir sesi membuat banyak tim mempercepat simulasi balapan. Namun, hujan akhirnya tidak datang sehingga tersedia cukup banyak data long run. Ban C4 soft dan C3 medium sama-sama mengalami degradasi rata-rata sekitar 0,3 detik per lap.
Jika degradasi tidak menurun secara signifikan hingga akhir pekan, strategi dua pit stop semakin mungkin diterapkan dalam balapan. Tidak ada tim yang menggunakan ban hard pada sesi tersebut. Tim-tim kemungkinan menyimpan kompon C2 agar memiliki lebih banyak set ban baru untuk balapan pada Minggu.





