Ai Ogura dinilai Yamaha memiliki kemampuan untuk menjadi salah satu pembalap Jepang terhebat dalam sejarah MotoGP sekaligus menghidupkan kembali gairah terhadap sepeda motor di negaranya. Penilaian itu muncul setelah pembalap Trackhouse tersebut tampil menonjol sepanjang musim 2026.
Ogura mencatat kemenangan di MotoGP Belanda, sebuah hasil yang membuatnya menjadi pembalap Jepang pertama yang memenangi balapan kelas premier dalam lebih dari dua dekade. Performa itu turut membawanya masuk dalam rencana besar Yamaha untuk musim 2027.
Mulai tahun depan, Ogura akan memperkuat tim pabrikan Yamaha. Ia akan menjadi bagian dari susunan pembalap baru bersama juara dunia 2024, Jorge Martin. Kombinasi tersebut juga membuka kemungkinan hadirnya pembalap Jepang yang mengendarai motor Jepang pada Grand Prix Jepang 2027.
Yamaha melihat peluang di luar lintasan
Paolo Pavesio, kepala MotoGP Yamaha, menilai pengaruh Ogura dapat melampaui prestasi olahraga. Dalam wawancara eksklusif dengan Motorsport.com Italia, ia mengatakan popularitas Ogura berpotensi membantu menghidupkan kembali budaya sepeda motor Jepang yang menurutnya telah melemah.
“Jepang adalah negara tempat sepeda motor dahulu sangat penting, tetapi kini tidak lagi menjadi faktor sekuat sebelumnya,” kata Pavesio.
Menurut dia, perubahan tersebut berlangsung perlahan hingga baru disadari setelah dampaknya terlihat jelas. Pavesio mengenang kunjungan pertamanya ke Jepang sekitar 25 tahun lalu, ketika Tokyo masih dipenuhi sepeda motor dan skuter yang dimodifikasi. Ia menyebut suasana kota saat itu seperti “taman hiburan bagi para penggemar sepeda motor”.
Namun, ia menilai jumlah sepeda motor di Tokyo kini jauh berkurang setelah muncul larangan parkir di trotoar dan persoalan kebisingan. Berkurangnya minat generasi muda terhadap sepeda motor juga dikhawatirkan memengaruhi ketertarikan mereka pada bidang teknik yang berkaitan dengan industri tersebut.
“Jika anak-anak muda tidak bergairah terhadap sepeda motor, bahkan mereka yang belajar teknik pun tidak akan bergairah terhadapnya,” ujar Pavesio.
Ia juga membandingkan jumlah penonton di Sirkuit Suzuka. Menurut Pavesio, kini jumlah penonton di sana hanya sekitar 60.000 orang, jauh di bawah angka 150.000 yang pernah tercatat pada masa ketika budaya sepeda motor Jepang lebih kuat.
Ogura dipandang punya potensi bersejarah
Meski MotoGP dan World Superbike Championship masih memiliki popularitas di Jepang, penjualan sepeda motor untuk penggunaan jalan raya disebut telah merosot selama empat dekade terakhir. Pavesio menilai situasi tersebut ironis karena Jepang merupakan rumah bagi Yamaha dan Honda, serta Suzuki dan Kawasaki. Ia juga menyebut Jepang masih memproduksi 50 persen sepeda motor yang dijual di seluruh dunia.
“Jepang masih memproduksi 50% sepeda motor yang dijual di seluruh dunia. Ini memalukan, dan sesuatu harus dilakukan,” katanya. Menurut Pavesio, tanggung jawab terbesar berada di tangan para produsen Jepang.
Ogura sendiri meniti karier dengan dukungan Honda dan merebut gelar Moto2 pada percobaan keempatnya pada 2024. Ia menjalani debut MotoGP pada 2025 bersama tim satelit Aprilia, Trackhouse.
Musim 2026 menjadi lompatan besar bagi pembalap berusia 25 tahun itu. Ogura bahkan sempat masuk dalam persaingan gelar sebelum cedera memaksanya absen dari balapan di Aragon dan Misano. Penampilan kuat pada awal musim kemudian mendorong Yamaha merekrutnya untuk 2027.
Pavesio menegaskan kewarganegaraan bukan alasan utama Yamaha memilih Ogura. Namun, ia menilai pencapaian pembalap tersebut pada fase awal kariernya membuka kemungkinan besar. “Dia bisa menjadi salah satu dari dua atau tiga pembalap Jepang terkuat dalam sejarah. Itu tentu membawa tekanan, tetapi biarlah,” ujar Pavesio.





