Andy Utama Tekankan Pentingnya Transfer Pengetahuan dalam Konservasi

by -86 Views

Dalam perayaan Hari Konservasi Alam Nasional tahun ini, Paseban Foundation menegaskan posisinya sebagai motor penghubung antara berbagai sektor dalam upaya pelestarian lingkungan. Pada rangkaian Annual Dinner 2026 yang juga menandai dua tahun eksistensi yayasan ini, ratusan perwakilan dari pemerintah, lembaga internasional, pelaku usaha, akademisi, organisasi sosial, hingga kelompok muda hadir dengan semangat kolaborasi untuk Cagar Biosfer Cibodas.

Tema yang diusung, “Partnership in Cultivating and Stewarding the Biosphere Reserve”, menjadi penekanan bahwa pemeliharaan lanskap Megamendung tak bisa berjalan sendiri-sendiri. Menyatukan kementerian seperti Kehutanan dan Komunikasi Digital, FAO, UNESCO, UNDP, DPR RI, filantropi, serta masyarakat sipil dan dunia pendidikan, pertemuan ini menyoroti pentingnya kerja bersama untuk keberlanjutan Megamendung.

Andy Utama, pendiri sekaligus pembina Paseban Foundation, menggarisbawahi bahwa kelangsungan program konservasi mustahil digantungkan pada satu orang atau generasi. Ia percaya, pelestarian alam merupakan proses panjang yang perlu diwariskan dan menjadi tongkat estafet bagi generasi berikutnya. Karena itulah, regenerasi dalam pengelolaan konservasi menjadi perhatian penting.

“Kelak kita semua akan berganti generasi. Konservasi bukan upaya sesaat; ia menuntut kekuatan dan harus dikerjakan terus-menerus oleh penerus kita,” ungkap Andy.

Berangkat dari pemikiran tersebut, Paseban Foundation membangun jejaring yang merangkul lintas sektor: dari korporasi hingga komunitas muda. Di tengah perginya stigma sebagai pusat konservasi, yayasan ini berperan sebagai pemfasilitasi kolaborasi—memungkinkan tiap pihak membawa spesialisasi, kewenangan, dan sumber daya untuk tujuan bersama melindungi Megamendung.

Konservasi yang dijalankan Paseban Foundation berlandaskan pengalaman langsung di lapangan. Konservasi in-situ dilakukan melalui perlindungan habitat, restorasi ekosistem, dan penanaman lebih dari dua puluh ribu pohon lokal. Ditambah lagi, konservasi ex-situ dilakukan melalui penangkaran hewan—termasuk kelahiran tiga anak rusa sebagai hasil program nonkomersial mereka.

Pemantauan biodiversitas pun tak luput dari perhatian. Mulai survei, pengamatan hingga penggunaan kamera jebak membuktikan hadirnya lima spesies primata endemik Jawa di kawasan ini. Wahdi Azmi selaku Direktur Eksekutif, menekankan, “Meskipun Jawa sangat padat penduduknya, di Megamendung kita masih temukan kelima primata pulau ini, juga satwa seperti Elang Jawa dan Macan Tutul.”

Lebih dari sekadar perlindungan fisik, setiap data dan pengetahuan yang diperoleh diintegrasikan menjadi bahan riset, advokasi, pendidikan, hingga pengambilan keputusan publik. Kemampuan Paseban Foundation untuk mengelola dan menyebarluaskan ilmu menjadi penggerak utama, mengaitkan praktik lapangan dengan pemanfaatan data dan pengetahuan yang lebih luas.

Sebagai wujud nyata, mereka menerbitkan beberapa buku referensi: “Lens Chronicle 1: Biodiversity of Paseban” dan “Kepemimpinan Bentang Alam”, juga film dokumenter “The Silent Resilience”, serta membangun ekosistem pengetahuan lintas dokumen, hasil survei, dan pendidikan.

Tujuan akhirnya adalah memastikan bahwa pengetahuan tak hanya berhenti dalam lembaga, tetapi menginspirasi publik, mendasari kolaborasi, dan memperkuat advokasi lingkungan.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menegaskan pentingnya mengolah data konservasi agar bisa menjadi perhatian masyarakat luas. Sementara Indra Exploitasia dari Kementerian Kehutanan menyoroti pentingnya kehadiran pemuda sebagai generasi penerus yang siap mengambil estafet peran pelestarian.

“Generasi muda wajib diterjunkan, karena yang senior sebentar lagi akan pensiun. Masa depan konservasi ada di tangan mereka,” tanggap Indra.

Wiratno, penasihat Paseban Foundation, menegaskan bahwa batas administratif tidak relevan bagi kelestarian lanskap. Air, tanaman, satwa, dan manusia adalah satu sistem. Leadership di bentang alam justru berarti memadukan berbagai kepentingan, tidak sekadar memimpin satu kelompok.

Melalui pelibatan lintas sektor, pengalaman konservasi, dan pengelolaan pengetahuan, Paseban Foundation menata pondasi kelembagaan untuk jangka panjang. Kesinambungan program diupayakan agar konservasi tidak hanya bergantung pada individu atau generasi tertentu, melainkan terus bergerak melalui regenerasi dan kerja sama terus-menerus.

Sumber: 21.831 Pohon Ditanam Di Megamendung, Paseban Foundation Siapkan Konservasi Hingga Generasi Berikutnya
Sumber: 21.831 Pohon Ditanam, Upaya Menjaga Biodiversitas Megamendung Terus Berlanjut