Di tengah aksi demonstrasi besar-besaran yang digelar oleh ribuan mahasiswa di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya pada Rabu (17/6/2026), sorotan tertuju pada seorang penyandang disabilitas yang turut menyuarakan keluh kesahnya. Aan, seorang penjual kopi keliling yang juga penyandang disabilitas, naik ke atas mimbar orasi untuk menyoroti sulitnya lapangan kerja bagi kaum difabel.
Aan: Butuh Pekerjaan, Bukan Makan Gratis
Dalam orasinya, Aan menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah bukanlah kebutuhan mendesak bagi rakyat. Menurutnya, yang dibutuhkan lebih adalah penyediaan lapangan kerja yang inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas. Ia menyayangkan maraknya kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) yang sering kali menimpa kaum difabel akibat efisiensi perusahaan.
“Yang dibutuhkan, disabilitas bisa bekerja dengan maksimal,” tegas Aan di hadapan massa aksi yang memadati Jalan Gubernur Suryo. Ia juga mengkritik gaya pidato Presiden Prabowo Subianto serta tarian khasnya yang dianggap hanya sebagai gimmick politik semata.
Mahasiswa Kritik Keterlibatan Aparat dan Proyek Non-Pertahanan
Aksi demonstrasi yang diprakarsai oleh Aliansi BEM Surabaya, BEM SI Jatim, BEM Nus Jatim, serta berbagai perwakilan kampus seperti Unair dan Unesa, juga menghadirkan kritik keras terhadap keterlibatan aparat dalam proyek non-pertahanan seperti MBG. Mahasiswa menilai hal tersebut sebagai ancaman terhadap demokrasi.
“Hari ini kita melihat pemerintah semakin merongrong demokrasi, tentara kita tidak menjaga perbatasan tapi malah mengurus MBG. Indonesia sedang sakit parah,” tegas salah satu orator mahasiswa dari atas mobil komando.
Dalam aksi ini, Aliansi BEM Unair menyampaikan 16 poin tuntutan resmi kepada pemerintah pusat. Beberapa tuntutan penting termasuk desakan pengesahan RUU Perampasan Aset, penguatan independensi KPK, penolakan militerisme, dan penghentian proyek ekstraktif yang merusak lingkungan.





