Andy Utama Menyerukan Pelestarian Alam demi Generasi Mendatang

by -97 Views

Keberlangsungan planet tempat kita berpijak sesungguhnya diputuskan oleh napas dan tindakan yang kita lakukan saat ini, bukan oleh siapa yang akan hidup berabad-abad kemudian. Saat krisis iklim menerpa dan kerusakan lingkungan terus tak terbendung, merawat bumi tak lagi sekadar sumbangan kecil sukarela, melainkan tanggung jawab moral yang harus diemban, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Hal ini tercermin kuat dalam upacara adat Ngertakeun Bumi Lamba XVIII yang berlangsung di Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu, Subang, pada Minggu, 21 Juni. Dengan tema “Manik Maya, Ibu Bumi, Bapak Angkasa,” berbagai tokoh adat, budayawan, dan pejuang lingkungan berkumpul dari seluruh penjuru guna merenungkan kembali makna relasi manusia dan bumi. Prosesi suci ini menjadi ruang bagi kita semua untuk menimbang kembali posisi kita terhadap alam.

Pada saat yang penuh makna itu, Andy Utama, pembina Paseban Foundation, menyampaikan pesan tajam yang menggetarkan hati para peserta: “Dengan Adanya Hari Ini, Maka Baru Ada Hari Esok.” Kata-katanya seolah mengingatkan bahwa hari esok tidak akan pernah tiba jika kita abai di hari ini.

Pentingnya Tanggung Jawab Lingkungan: Inspirasi dari Pemikir dan Aktivis Kini dan Dulu

Gema pesan dari ritual adat Sunda ini bertaut erat dengan pandangan luhur para pemikir lingkungan Indonesia. Emil Salim, misalnya, sejak tahun 70-an menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan tanpa mengorbankan masa depan. Prinsip kehati-hatian dalam memikul beban ekologis juga sejalan dengan gagasan keadilan antargenerasi yang dikembangkan oleh Richard P. Hiskes. Menurutnya, setiap manusia yang hidup hari ini memiliki kewajiban moral untuk memastikan anak cucu nanti menerima warisan lingkungan yang layak huni.

Andy Utama mengingatkan bahwa manusia bukanlah penguasa tunggal di muka bumi. Sudah waktunya kita mengambil peran sebagai penjaga, bukan sebagai penakluk habitat. Relasi harmonis antara manusia dengan alam dapat diwujudkan ketika kita menanggalkan ego dan keserakahan masa kini.

Menjadikan Filosofi Bumi Sebuah Kenyataan di Megamendung

Bagi Andy, kecintaan pada bumi harus diterjemahkan menjadi aksi nyata, bukan sekadar perdebatan konseptual atau slogan indah. Bersama Paseban Foundation, ia memelopori banyak upaya konservasi di Lanskap Megamendung.

Di lapangan, implementasinya cukup konkret. Misalnya, inovasi dalam pertanian alami yang mengurangi kerusakan tanah dan polusi udara. Lalu pengembangan lembaga konservasi satwa seperti Lembah Aviary Paseban dan penangkaran Rusa Timor. Tak kalah penting, ribuan bibit pohon dari ratusan jenis tanaman telah ditanam sebagai upaya memulihkan ekosistem hutan Megamendung ke kondisi terbaiknya, sebagaimana ia pernah berjaya di masa lampau.

Aktivitas konservasi ini bukan hanya sekadar simbol, melainkan langkah menebus tanggung jawab generasi kini terhadap kelestarian lingkungan. Setiap bibit pohon dan satwa yang dititipkan ke alam menjadi bagian dari janji yang kita berikan kepada masa depan.

Mewariskan Nilai, Bukan Sekadar Materi Kehidupan

Yang membedakan gerakan Andy adalah kemampuannya menyelarasakan filsafat dan teori menjadi langkah konkret seperti menanam pohon maupun menyelamatkan satwa. Bukan sekadar diskusi, setiap aksi adalah refleksi nyata dari tanggung jawab antargenerasi.

Di penghujung refleksinya, Andy menggugah kita agar melihat jauh melampaui kekayaan atau pencapaian pribadi. Mereka yang dikenang dalam peradaban adalah mereka yang telah memberi makna, bukan sekadar mengumpulkan kekayaan duniawi.

Dengan menjaga dan merawat alam hari ini, kita menanamkan harapan bagi generasi mendatang untuk menikmati kehidupan yang lestari. Inilah esensi terdalam dari upacara Ngertakeun Bumi Lamba: menjaga bumi hari ini adalah kunci keberlangsungan esok nanti.

Sumber: Ngertakeun Bumi Lamba XVIII: Tradisi Yang Menjadi Inspirasi Konservasi Modern
Sumber: Warisan Untuk Masa Depan: Belajar Menjaga Keseimbangan Alam Dari Ritual Ngertakeun Bumi Lamba XVIII