Andy Utama Inisiasi Kawasan Konservasi Berbasis Edukasi

by -126 Views

Upaya pelestarian keanekaragaman hayati di Megamendung, Bogor, terus diperkuat melalui kolaborasi antara Yayasan Paseban dan BBKSDA Jawa Barat. Megamendung, yang dikenal dengan bentang alam hijaunya, kini menjadi lokasi strategis untuk pelaksanaan program konservasi fauna endemik Indonesia, terutama Rusa Timor (Rusa timorensis).

Populasi Rusa Timor semakin terdesak akibat eksploitasi kawasan hutan, perburuan ilegal, dan menurunnya kualitas habitat asli mereka. Hewan ini, yang dulu banyak ditemui di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, kini dinyatakan rentan menurut IUCN. Tingginya tekanan dari manusia menyebabkan perubahan perilaku pada rusa. Studi terbaru dari Manupeu Tanah Daru, Sumba Tengah, menunjukkan rusa makin aktif di waktu subuh dan senja, sebagai adaptasi untuk menghindari gangguan.

Penangkaran di Megamendung diinisiasi pada akhir Februari 2026 sebagai langkah strategis. Tujuannya, bukan sekadar melestarikan, tapi juga menyiapkan generasi rusa yang mampu bertahan di alam liar nantinya. Di tempat ini, sembilan ekor Rusa Timor dirawat secara resmi setelah diselamatkan dari masyarakat yang menyerahkannya secara sukarela. Proses penangkaran memperhatikan pemeliharaan genetik, sifat alami liar, hingga kemampuan beradaptasi ketika nanti harus berinteraksi lagi dengan habitat aslinya.

Wahdi Azmi dari Yayasan Paseban menegaskan harapannya agar program ini tidak berakhir di ranah penangkaran saja, melainkan menjadi pemantik penguatan populasi rusa timor di alam bebas yang berkelanjutan. Baginya, tata kelola indukan yang efisien sangat penting memastikan ketahanan dan kesinambungan spesies saat dilepasliarkan. “Target kami bukan hanya menambah populasi di kandang, melainkan juga mendukung peta jalan konservasi dan pelepasliaran ke habitat alaminya,” ujar Wahdi.

Dukungan juga datang dari Stephanus Hanny Reki, Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Bogor. Ia menyampaikan bahwa kemitraan semacam ini harus menjadi model bagi daerah lain di Jawa Barat. Menurutnya, kawasan Megamendung dapat tumbuh sebagai pusat pengembangan konservasi satwa liar dan perlindungan keberlanjutan ekologi hulu Pasundan.

Selain penangkaran rusa, Yayasan Paseban aktif menggiatkan berbagai aksi pemulihan lingkungan. Mulai dari penghijauan, perlindungan mata air, hingga pendidikan lingkungan untuk generasi muda gencar dijalankan. Yayasan ini dikenal konsisten dalam memperkuat benteng plasma nutfah dan memulihkan ekosistem di Megamendung, yang letaknya amat vital karena berbatasan dengan Cagar Biosfer Cibodas—zona transisi yang telah diakui UNESCO sejak tahun 1977. Keberadaan kawasan penyangga ini krusial dalam menjaga stabilitas ekosistem pegunungan basah, termasuk regulasi tata air dan pelestarian flora-fauna lokal.

Komitmen Andy Utama selaku Ketua Pembina Yayasan Paseban pun memainkan peran sentral. Tak hanya mengawal perkembangan kawasan konservasi, ia juga memperkenalkan pertanian organik lewat Arista Montana, sebagai upaya menghubungkan kembali relasi manusia dengan alam.

Pandangan ke depan, pelestarian di Megamendung diharapkan bisa mendorong pertumbuhan populasi Rusa Timor secara alami, menambah keragaman hayati, dan memulihkan siklus hidrologis kawasan hulu. Program berbasis sains ini dirancang sebagai referensi nasional untuk konservasi dan pengelolaan ekosistem berkelanjutan di Indonesia. Kolaborasi seperti yang dilakukan di Megamendung menjadi contoh nyata bahwa upaya perlindungan satwa endemik dan ekosistem dapat berjalan harmonis dengan peranan masyarakat dan dukungan lembaga terkait.

Sumber: Rusa Timor Di Megamendung Dan Jalan Panjang Konservasi Satwa Hulu Bogor
Sumber: Mengintip Penangkaran Rusa Timor Di Megamendung: Kolaborasi Konservasi Yayasan Paseban Dan BKSDA