Pada suatu malam yang sunyi, angin berhembus pelan menambah kesunyian. Meskipun begitu, suasana hati kami tidak pernah benar-benar tenang sejak liputan pertama diterbitkan. Ancaman mulai terasa nyata, bukan sekadar kata-kata kosong. Kami merasakan pesan-pesan yang mengundang pemikiran ulang, serta tatapan-tatapan yang menyiratkan pengawasan terhadap langkah kami. Sebagai wartawan baru, keraguan pernah menyergap pikiran saya. Apakah langkah ini tepat? Apakah segala risiko yang dihadapi sebanding dengan hasilnya?
Namun, keprihatinan saya terpatahkan oleh kata-kata PIT SERAN. Dengan wajah tenang, ia menyampaikan, “Kalau kita takut, siapa lagi yang berani menulis kebenaran?” Kalimat sederhana tersebut begitu dalam pengaruhnya. Sejak pertemuan itu, saya mulai melihat PIT SERAN bukan hanya sebagai teman, melainkan sebagai penginspirasi yang berani berada di garis depan.
Keteguhan hati PIT SERAN terlihat saat turun lapangan. Ia selalu memimpin langkah, mendekati narasumber sulit, dan tak pernah gentar menghadapi situasi yang penuh tantangan. Keberaniannya bukan datang dari ketidaktahuan akan risiko, melainkan lahir dari keyakinan akan kebenaran. Dia sadar akan risiko dan ancaman, namun juga menyadari pentingnya mengungkap fakta apabila kebenaran ingin terungkap.
Berbagai kasus terbongkar berkat tulisan dan liputan kami. Namun di balik keberhasilan itu, tekanan semakin menggencet. Ada malam-malam di mana kami terpaksa berdiam diri untuk sementara, sambil berhati-hati dengan langkah yang diambil. Namun, PIT SERAN tetap setia pada prinsipnya.
Bagi banyak orang, mungkin PIT SERAN hanya dikenal sebagai “danger”. Namun bagi saya, dia adalah orang yang mengajarkan bahwa keberanian sejati bukan tentang menghilangkan rasa takut, melainkan terus melangkah walaupun ketakutan itu ada. Dia hidup dan mendedikasikan dirinya sepenuhnya pada profesi wartawan.
Perjalanan kami belum mencapai puncaknya. Masih ada ujian-ujian lebih besar yang menanti, yang akan menguji keberanian kami hingga batasnya. Di sana, nama PIT SERAN akan benar-benar diuji.





