Diskusi UI Dorong Anak Muda Lebih Peduli pada Stabilitas Dunia

by -139 Views

Pembahasan mengenai kemungkinan pecahnya perang dunia semakin sering terdengar di berbagai lini, baik dalam diskusi daring maupun tatap muka. Fenomena ini mendorong Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) Chapter Jabodetabek mengadakan IR Youth Talks#1 demi memperluas pemahaman anak muda terhadap dinamika politik global.

Acara yang digelar pada 21 April 2026 di Auditorium Suwantji Sisworahardjo, FISIP Universitas Indonesia, mempertemukan peserta dengan para narasumber berpengalaman untuk mendiskusikan topik “Indonesia dalam Dinamika Geopolitik Global”.

Anggy Pasaribu, pendiri “Story of Anggy” sekaligus lulusan Hubungan Internasional, membuka diskusi dengan mempertanyakan validitas kekhawatiran masyarakat akan meletusnya perang dunia dalam waktu dekat.

Alih-alih mencari jawaban pasti, Anggy mendorong audiens untuk mengembangkan cara berpikir kritis serta mengetahui konteks global sebelum membentuk opini.

Menambahkan perspektif strategis, Brigjen TNI Aloysius Nugroho Santoso dari Lemhannas RI menekankan bahwa anak muda sebaiknya tidak terpaku pada isu ramalan perang dunia, melainkan bersiap menghadapi spektrum krisis global yang bisa memengaruhi negara kapan saja.

Ia menerangkan bahwa ada langkah-langkah penting dilakukan oleh Lemhannas, mulai dari menilai potensi ancaman global, melakukan analisis kerentanan, hingga menciptakan berbagai skenario respon nasional.

Penelitian mereka memperlihatkan posisi Indonesia yang rawan akibat ketergantungan pada impor energi serta pangan, juga posisinya sebagai pusat strategis di tengah ketegangan antara negara-negara besar di kawasan Indo-Pasifik.

Konsekuensi dari ketergantungan ini membuat situasi dunia yang bergejolak mudah mengganggu stabilitas ekonomi, keamanan, dan kesejahteraan dalam negeri.

Dalam konteks memperkuat daya tahan bangsa, Aloysius menegaskan Pancasila sebagai landasan fundamental, bukan sekadar simbol semata. Ia menyatakan bahwa kekuatan nasional sangat dipengaruhi kohesi ideologis yang menopang persatuan menghadapi tantangan global.

Menurutnya, walaupun aspek ekonomi atau militer krusial, tanpa kekuatan ideologi negara mudah retak jika diterpa tekanan eksternal.

Sementara itu, Broto Wardoyo dari Universitas Indonesia mengajak generasi muda mengamati perubahan dunia secara konseptual dan tidak hanyut pada pola pikir panik.

Ia menyebutkan bahwa krisis-krisis hari ini lebih tepat dipahami sebagai proses perubahan dalam sistem internasional, bukan penanda pasti terjadinya perang dunia.

Broto memaparkan bahwa konflik geopolitik, dinamika ketersediaan energi, hingga anjloknya kestabilan ekonomi adalah gejala-gejala yang saling terkait dan harus dipetakan arah perubahannya.

Ia juga menyinggung peran kebijakan Donald Trump sebagai katalisator yang memperhebat ketidakpastian dalam tata dunia akibat langkah politiknya yang cenderung mendestabilisasi.

Sebagai solusi, Broto memperkenalkan strategi resilience-based hedging, sebuah pendekatan yang menggabungkan fleksibilitas dalam kebijakan luar negeri dengan penguatan kapasitas domestik agar Indonesia dapat bertahan di tengah perubahan dunia dan tidak hanya bergantung pada rencana jangka pendek.

Diskusi IR Youth Talks#1 sukses memberikan ruang diskusi setara antara pemangku kepentingan, akademisi, serta mahasiswa lintas kampus. Kegiatan ini diinisiasi bersama oleh enam universitas anggota AIHII Jabodetabek, yaitu Universitas Indonesia, Universitas Pertamina, Universitas Bina Nusantara, Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama, Universitas Jayabaya, dan Universitas Budi Luhur.

Jeanne Francoise dari President University yang mewakili AIHII menyatakan bahwa forum seperti ini penting agar ilmu hubungan internasional lebih membumi dan mudah diakses mahasiswa lintas kampus.

Pesan yang ditegaskan, isu global merupakan tantangan nyata yang harus dipahami bersama, bukan hanya urusan golongan elit maupun akademisi, karena generasi muda akan menjadi pihak yang langsung merasakan dampaknya kelak.

Dalam penutupan acara, Anggy Pasaribu mengingatkan pentingnya membangun tradisi dialog publik yang sehat serta menyampaikan kritik dengan cara santun dan di ranah yang tepat.

Ia pun menekankan bahwa keterlibatan aktif generasi muda tidak harus diwujudkan dalam bentuk konfrontasi, melainkan lewat pengembangan pengetahuan serta argumentasi yang konstruktif dan beretika.

Akhirnya, diskusi ini meneguhkan bahwa dunia memang tengah berada di fase ketidakpastian, namun justru pemahaman yang matang dan kesiapan menghadapi tantanganlah yang akan memastikan Indonesia sanggup menavigasi berbagai gejolak di masa depan.

Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Soroti Risiko Global Bagi Anak Muda
Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Bahas Isu Perang Dunia, Anak Muda Diminta Siap Hadapi Risiko