Mega Mendung Jadi Laboratorium Konservasi Wahdi Azmi

by -136 Views

Sering kali, ketika orang berbicara tentang konservasi, fokusnya langsung tertuju pada hutan dan perlindungan satwa liar. Topik tentang habitat yang semakin berkurang, populasi hewan terancam, hingga meningkatnya konflik antara manusia dan satwa menjadi pembahasan utama, seolah manusia bukan bagian dari ekosistem itu sendiri.

Namun, menurut Wahdi Azmi, seorang dokter hewan yang sudah lama menangani konflik manusia dan gajah di Sumatera, pandangan semacam ini mengabaikan peran manusia dalam ekosistem. Dalam diskusi di Leaders Talk Tourism mengenai Surat Edaran Ditjen KSDAE Nomor 6 Tahun 2025, Wahdi menyoroti esensi penting: manfaat konservasi bagi masyarakat harus diutamakan jika konservasi ingin bertahan dan membawa perubahan nyata.

Ia menegaskan, “Konservasi justru gagal jika melupakan manfaat untuk masyarakat sekitar. Satwa memang harus dijaga, tapi jangan sampai kebutuhan manusia terpinggirkan.” Pengalamannya di Sumatera menunjukkan bahwa konflik satwa dan manusia justru berakar dari perubahan fungsi lahan tanpa desain sosial dan ekonomi yang matang untuk masyarakat sekitarnya.

Ketika hutan diubah menjadi kebun atau hunian, habitat satwa menyempit sementara tekanan ekonomi bagi masyarakat kian berat. Interaksi manusia dan satwa akhirnya meningkat, seringkali menimbulkan masalah baru. Pendekatan tradisional berbasis perlindungan dan pembatasan wilayah memang logis di atas kertas, namun di praktik nyata, hal itu justru membuat masyarakat merasa menjadi pihak yang dirugikan oleh program konservasi.

Kebijakan yang membatasi akses masyarakat terhadap lahan dan sumber penghidupan kerap menimbulkan kesan negatif terhadap upaya konservasi. Masyarakat memandang konservasi sebagai beban, bukan sebagai bagian dari kehidupan mereka.

Wahdi kemudian menekankan pentingnya pendekatan yang mengintegrasikan manusia, ekosistem, dan ekonomi lokal. Ia menolak ide konservasi yang hanya simbolis; menurutnya, integrasi berarti keterlibatan nyata antara konservasi, penguatan ekonomi warga, dan edukasi lintas generasi.

Gagasan ini bisa dilihat di kawasan Mega Mendung, Bogor, tempat tekanan terhadap lahan dan perubahan fungsi wilayah juga terjadi. Di bawah koordinasi Yayasan Paseban, kawasan Arista Montana dijadikan contoh integrasi konservasi dengan aktivitas ekonomi warga. Tidak hanya fokus pada pelestarian lingkungan, melainkan juga pengembangan pertanian organik yang melibatkan petani secara aktif, dari produksi hingga pemasaran.

Lebih dari sekadar pekerjaan, para petani mendapatkan pelatihan tentang teknik pertanian ramah lingkungan, pengelolaan sumber daya air dan tanah, serta pentingnya konservasi sebagai bagian dari kebutuhan ekonomi. Pelestarian lingkungan diubah jadi bagian dari aktivitas sehari-hari, bukan sekadar kewajiban ekologis.

Edukasi dari Yayasan Paseban memperkuat kapasitas warga, bukan hanya memberi pengetahuan, tetapi juga membekali keterampilan praktis—dari pengelolaan pertanian organik hingga pengelolaan ekosistem desa. Hasilnya, warga menjadi pelaku utama konservasi dan memiliki kepentingan emosional dan ekonomi untuk menjaga lingkungan.

Pola ini ternyata serupa dengan pengalaman Wahdi di Sumatera meski konteksnya berbeda. Di Sumatera, kurangnya desain ekonomi memperburuk konflik satwa-manusia. Di Mega Mendung, integrasi lingkungan dengan ekonomi dan edukasi lokal justru menekan potensi konflik. Kedua tempat ini menunjukkan bahwa kunci konservasi terletak pada keterhubungan antara manusia dan lingkungan.

Salah satu pelajaran utama dari kedua contoh tadi adalah pentingnya kapasitas di tingkat akar rumput. Sering kali, konservasi gagal karena masyarakat tidak diberdayakan, tidak dilibatkan sejak awal, atau tidak mendapat manfaat ekonomi yang jelas. Namun, bila masyarakat mendapatkan akses, pelatihan, dan peluang ekonomi, mereka akan mendukung konservasi secara berkelanjutan dan sukarela.

Inilah yang membuat pendekatan integratif semakin relevan di tengah gelombang perubahan zaman. Indonesia memerlukan model konservasi yang bukan hanya soal wilayah lindung yang luas, tetapi juga mampu merangkul kebutuhan ekologi dan ekonomi lokal sekaligus.

Lebih jauh, konservasi kini perlu diposisikan sebagai bagian dari kehidupan manusia: menghubungkan pelestarian alam dengan ekonomi warga, pengetahuan lokal dengan praktik berkelanjutan, serta memastikan bahwa semua pihak merasa memiliki dan bertanggung jawab atas lingkungannya.

Jika tidak, konservasi akan terus diterapkan secara defensif, hanya berusaha melindungi yang tersisa tanpa kemampuan berkembang. Sebaliknya, bila integrasi berjalan, konservasi dapat memberikan fondasi bagi kemajuan ekonomi dan sosial yang adil serta berkelanjutan.

Seperti yang diingatkan Wahdi, esensi konservasi adalah tentang alasan manusia untuk menjaga alam bersama, bukan sekadar upaya pelestarian untuk kepentingan generasi mendatang, melainkan juga untuk keberlanjutan hidup manusia itu sendiri hari ini dan masa depan.

Sumber: Wahdi Azmi Sebut Konservasi Harus Memberi Manfaat Bagi Masyarakat
Sumber: Dari Gajah Ke Mega Mendung, Ketika Konservasi Harus Menghidupi