Akademisi Dorong Penataan Internal Militer Berbasis Profesionalisme

by -173 Views

Perbincangan mengenai reformasi TNI kerap terjebak pada kecemasan kembalinya dominasi militer di ruang publik, padahal isu inti terletak pada dinamika struktural dan pola jenjang karier perwira yang belum banyak dibahas secara terbuka. Fenomena ini menggambarkan problem mendasar, bukan semata urusan teknis atau legalitas pemisahan militer dari ranah sipil.

Sebagai respons terhadap isu tersebut, Magister Hubungan Internasional Universitas Indonesia mengadakan forum diskusi dengan tema “Pola Karir dan Profesionalisme Militer” pada 4 Maret 2026. Para pakar seperti Aditya Batara Gunawan (Universitas Bakrie), Beni Sukadis (Lesperssi), dan Yudha Kurniawan (Universitas Bakrie) menjadi narasumber utama dalam diskusi tersebut.

Perdebatan klasik mengenai relasi sipil dan militer dalam wacana politik nasional ternyata tidak sesederhana sekadar tarik-menarik kewenangan. Dalam tataran ideal, militer berfokus pada pertahanan luar negeri dan sipil menangani keamanan dalam negeri, tetapi realitas budaya birokrasi Indonesia justru memperlihatkan proses yang saling silang-menyilang hingga batas tanggung jawab semakin kabur.

Faktor politik menjadi salah satu pintu masuk yang memengaruhi tata kelola karier militer di Indonesia. Menurut Aditya Batara, keberpihakan kepada pemimpin politik sering kali lebih menentukan promosi dibanding profesionalisme murni. Dalam praktiknya, jabatan strategis dapat dipengaruhi relasi personal, sehingga meritokrasi berkompetisi dengan loyalitas.

Di sisi lain, sistem pengangkatan Panglima TNI memang membutuhkan persetujuan parlemen sebagai bentuk kontrol sipil. Namun Yudha Kurniawan mengingatkan bahwa mekanisme ini berpeluang menjadi ladang kepentingan politik baru, menjadikan institusi militer rentan intervensi elite. Bandingkan misalnya dengan Inggris, yang otoritas penunjukan panglima militer tidak melalui proses politik di parlemen, menunjukkan beragamnya bentuk kontrol sipil yang berlaku di negara-negara demokrasi.

Dilema berikutnya muncul dari kapasitas internal TNI, terutama dalam pengisian jabatan tinggi. Menurut Beni Sukadis, surplus personel di level perwira sering kali menjadi alasan untuk memperluas struktur organisasi ataupun memasukkan militer ke sektor-sektor sipil sebagai solusi atas keterbatasan posisi strategis yang tersedia. Hal ini makin kompleks disebabkan anggaran pertahanan yang belum maksimal dan fasilitas pendidikan militer yang terbatas.

Struktur yang membengkak akibat penumpukan perwira dapat memicu inefisiensi birokrasi dan mendorong kebutuhan ekspansi peran ke luar sektor pertahanan. Yudha menyoroti bahwa pengelolaan sumber daya manusia di lingkungan militer tidak sekadar soal rotasi ataupun pembagian matra, melainkan erat kaitannya dengan sistem promosi jabatan yang sering menyumbat peluang naik pangkat, atau terjadi bottleneck, akibat struktur organisasi yang tidak sebanding dengan jumlah tenaga yang tersedia.

Fenomena pergantian Panglima TNI yang dianggap memenuhi prinsip rotasi antarmatra pada kenyataannya tidak selalu dijalankan secara konsisten. Beni menunjukkan bahwa riwayat pimpinan TNI kerap didominasi kepentingan politis daripada sekedar menuruti pola estafet antar angkatan, dimana kadang dua figur berturut-turut berasal dari angkatan yang sama.

Persoalan profesionalisme dan objektivitas karier militer menjadi semakin penting di tengah tren kemunduran demokrasi yang dirasakan publik saat ini. Tantangan terbesar bukan hanya bagaimana menempatkan militer tetap pada jalur pertahanan negara, namun juga membangun sikap dewasa dari sipil untuk tidak menarik militer masuk ke pertarungan politik praktis.

Dalam konteks ini, perbaikan internal seharusnya diarahkan kepada penguatan mekanisme meritokrasi, pembatasan campur tangan politik pada promosi jabatan militer, dan restrukturisasi agar penumpukan jabatan dapat diatasi secara sistemis. Negara-negara maju mempraktikkan otonomi organisasi militer dalam bidang karier, suatu prinsip yang sekaligus menegaskan pentingnya profesionalisme tanpa intervensi berlebihan dari kekuatan sipil. Indonesia perlu mengikuti standar ini secara konsisten jika ingin meletakkan relasi sipil-militer pada posisi yang sehat demi demokrasi yang kokoh.

Sumber: Motif Perluasan Peran TNI Ke Sektor Sipil, Struktur Organisasi Dan Karier Perwira Disorot
Sumber: Motif Di Balik Perluasan Peran TNI Ke Sektor Sipil Dan Pembengkakan Struktur Organisasisi