Gejolak Timur Tengah dan Dampaknya pada Harga Bitcoin

by -98 Views

Pasar kripto tengah merasakan tekanan signifikan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa serangan udara terhadap Iran akan berlanjut hingga mencapai tujuan militer. Situasi ini memicu gelombang risk-off di pasar global dan menyebabkan harga aset kripto utama kembali tertekan.

Bitcoin (BTC) turun ke kisaran US$65.954 pada Senin (⅔) setelah sempat mencapai level US$68.000. Dalam 24 jam terkini, BTC mengalami koreksi sekitar 1%, dengan penurunan sekitar 20% dalam sebulan terakhir. Altcoin utama juga tidak luput dari tekanan, dengan Ethereum (ETH) turun sekitar 2,46% menjadi US$1.947, dan XRP merosot hampir 3% ke kisaran US$1,35. Solana (SOL) juga terpengaruh dengan catatan pelemahan seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

Pelemahan ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah setelah serangan udara besar-besaran Amerika Serikat dan Israel yang mengakibatkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ketegangan semakin meningkat dengan Iran menolak pembukaan kembali negosiasi nuklir dengan AS, sementara Inggris mengizinkan penggunaan pangkalan militer untuk mendukung serangan defensif terhadap situs rudal Iran.

Kondisi konflik ini membuat aset safe haven tradisional mengalami reli. Harga minyak mentah mencatat lonjakan terbesar dalam empat tahun terakhir karena kekhawatiran akan gangguan pasokan energi, sedangkan harga emas melonjak lebih dari 2% dalam 24 jam terakhir. Namun, indeks saham global seperti Nikkei 225 Jepang dan Hang Seng Hong Kong malah tercatat melemah.

Calvin Kizana, CEO Tokocrypto, menilai bahwa volatilitas yang dialami saat ini menunjukkan sensitivitas pasar kripto terhadap sentimen makro global. Menurutnya, dalam jangka pendek, Bitcoin berperan sebagai aset berisiko yang sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global.

Analisis teknikal menunjukkan bahwa Bitcoin berada di bawah level support penting US$65.000 saat ini. Jika tekanan masih berlanjut dan harga menembus area US$64.000, bisa terjadi pengetesan ulang level US$63.000 bahkan mendekati US$60.000. Untuk mengonfirmasi pembalikan tren jangka pendek, BTC perlu kembali menembus resistensi di kisaran US$68.500–US$69.000 dan melampaui level US$70.800.

Sisi fundamental juga memperlihatkan pelemahan dari sisi on-chain dan derivatif. Aktivitas akumulasi whale melambat, sementara likuidasi posisi leverage membantu mendorong tekanan harga. Namun, Calvin menyoroti bahwa dinamika makro dapat menciptakan dua skenario berbeda bagi kripto dalam jangka menengah.

Suasana di dalam negeri juga dipengaruhi oleh pergerakan harga yang cenderung sideways dan mulai terasa jenuh sejak beberapa bulan terakhir. Investor lokal pun lebih berhati-hati dalam menambah eksposur dan melakukan ekspansi portofolio mengingat ketidakpastian global yang ada.

Meski demikian, minat terhadap aset kripto tetap tinggi di platform Tokocrypto. Investor cenderung melakukan akumulasi secara bertahap dan lebih selektif dalam memilih aset untuk bertransaksi. Sikap disiplin dan manajemen risiko di tengah volatilitas tinggi menjadi kunci bagi investor untuk bertahan di masa-masa sulit ini.

Tokocrypto sendiri hadir sebagai pelopor dalam perdagangan aset kripto di Indonesia, memberikan layanan investasi kripto yang aman, transparan, dan mudah digunakan. Dengan rata-rata nilai transaksi harian sebesar US$30 juta, Tokocrypto telah memperoleh kepercayaan lebih dari 4 juta pengguna di Indonesia.

Source link