Pada hari kedua Indonesia Economic Forum (IEF) ke-12 di ARTOTEL Suites Mangkuluhur, rangkaian acara berlanjut dengan sesi business matching yang melibatkan pembeli, marketplace, UMKM, koperasi desa, dan enabler digital. Tujuan dari acara ini adalah untuk menyatukan mereka dalam jaringan ION guna memperluas pasar dan mendorong adopsi di tingkat pelaku usaha. Peserta sesi memperkenalkan diri dan berdiskusi tentang bagaimana mereka dapat menggunakan ION dalam bisnis mereka secara praktis.
Salah satu temuan penting adalah bahwa ION bukanlah ancaman bagi marketplace yang sudah ada, melainkan peluang untuk memperluas jangkauan pasar. Diskusi juga membedakan antara platform tradisional dan jaringan terbuka, di mana ION memisahkan peran antara pembeli dan penjual. Beberapa buyer apps yang dibahas termasuk bank dan operator telekomunikasi yang diproyeksikan dapat menjadi gerbang belanja di ION.
Kemudian, fokus dibahas pada seller apps, terutama UMKM dan koperasi desa. Pemerintah mendorong adopsi super app SAPA UMKM untuk mempermudah perdagangan digital bagi jutaan pelaku usaha. Strategi melibatkan digitalisasi pasar tradisional dengan memberdayakan pedagang pasar rakyat melalui aplikasi seller app. Hal ini diharapkan dapat menciptakan kluster digital yang saling terhubung dan meningkatkan distribusi barang.
Selain itu, enabler seperti APINDO, Orbit Future Academy, dan AYDA menekankan pentingnya pelatihan, standar, dan kualitas produk untuk mendukung keberhasilan ION. Diskusi juga menggarisbawahi potensi perdagangan lintas batas dan integrasi perdagangan digital Indonesia dengan ASEAN.
Penegasan dari acara ini adalah pentingnya kesabaran, kolaborasi, dan kepercayaan dalam menghadapi transformasi ekosistem bisnis melalui proyek pilot dan kemitraan nyata. Melalui sesi ini, diharapkan tercipta kesempatan baru bagi pelaku usaha untuk berkembang dan terhubung dalam sebuah jaringan terbuka yang memberi manfaat bagi semua pihak.





