Perubahan zaman ke era digital membawa cara-cara baru dalam mengancam ketahanan negara. Jika ancaman keamanan dahulu didominasi oleh kekuatan militer dan konflik fisik, kini ranah virtual menjadi ladang subur bagi ancaman tersembunyi yang seringkali tak terdeteksi oleh radar keamanan konvensional. Ruang siber membuka peluang luas bagi manipulasi, mulai dari arus informasi palsu, pembentukan opini publik, hingga gangguan terhadap institusi politik tanpa satu pun senjata tradisional digunakan.
Fenomena serangan siber dewasa ini semakin nyata dan menuntut perhatian serius pemerintah serta masyarakat. Ancaman ini bukan hanya berupa peretasan data, tetapi juga infiltrasi yang mampu mengacaukan stabilitas negara dari dalam, misalnya melalui propaganda dan penyesatan opini yang masif terstruktur. Pengalaman sejumlah negara dunia memperlihatkan bahwa kekuatan digital bisa mengacak-acak sistem demokrasi dan hasil pemilu tanpa perlu campur tangan militer konvensional.
Kasus di Romania pada pemilihan presiden 2024 menjadi studi penting. Popularitas Calin Georgescu yang melonjak drastis secara tiba-tiba bukan hasil dari kampanye konvensional, melainkan didorong operasi digital besar-besaran. Ribuan akun palsu di berbagai media sosial muncul hampir bersamaan, menyebarkan narasi-narasi yang menyentuh titik lemah masyarakat seperti identitas kebangsaan, soal hubungan antaragama, serta sentimen anti-Barat. Semua narasi itu diperkuat dengan propaganda dari media luar negeri.
Namun, situasinya tidak sesederhana dugaan intervensi asing semata. Penelitian lebih dalam menemukan bahwa konten-konten penting banyak dihasilkan dari dalam negara sendiri, meskipun pengaruh dan bahan dari luar negeri juga jelas terlihat. Tersingkap pula jaringan agensi periklanan dan influencer internasional yang berbasis di luar Romania turut mengambil peran penting dalam mengatur distribusi pesan. Propaganda digital tersebut merupakan hasil kerja bersama aktor lokal dan global yang terorganisasi dengan rapi.
Broto Wardoyo, pakar dan akademisi dari Universitas Indonesia, menyoroti bagaimana garis pembatas antara ancaman luar dan dalam semakin tipis di dunia digital. Pelaku-pelaku asing kini sering bekerja sama dengan pihak-pihak lokal, sehingga masyarakat perlu lebih kritis dan tidak mudah percaya pada setiap arus informasi yang beredar. Serangan siber bukanlah fiksi, dan efeknya terhadap integritas politik sungguh nyata.
Ia menegaskan bahwa negara demokrasi seperti Indonesia harus sangat waspada. Pengalaman negara lain sudah membuktikan bahwa manipulasi dunia maya, jika tidak diantisipasi, dapat menghancurkan kepercayaan terhadap proses demokrasi dan memperparah perpecahan sosial. Indonesia sendiri sangat rentan, mengingat besarnya jumlah penduduk pengguna internet dan kecenderungan politik yang sudah terpolarisasi sejak beberapa tahun terakhir.
Operasi informasi digital seringkali memanfaatkan influencer, bot, hingga iklan terarah untuk mengaburkan batas antara isu domestik dan kepentingan luar negeri. Ketika strategi ini dijalankan sistematis, masyarakat kesulitan menilai kebenaran dan mudah terprovokasi narasi palsu. Ancaman tersebut harus dipahami sebagai ancaman nyata bagi ketahanan nasional.
Penting bagi Indonesia untuk mengambil hikmah dari pengalaman di negara lain, bukan hanya sebagai catatan, tetapi menjadi peringatan keras mengenai bahaya manipulasi digital. Ia mengingatkan, bahkan negara berpengalaman pun bisa rentan jika literasi digital dan kesadaran sosial tidak dibangun secara kolektif.
Membangun ketahanan siber nasional dan meningkatkan kecakapan masyarakat dalam memilah informasi adalah kunci agar bangsa ini tidak mudah digoyang kepentingan kelompok tertentu, apalagi oleh aktor-aktor asing yang piawai memainkan opini publik lewat media sosial. Kewaspadaan dan kolaborasi semua pihak sangat diperlukan untuk menjaga kedaulatan informasi Indonesia.
Sumber: Ancaman Siber Global Dan Ketahanan Siber Indonesia: Belajar Dari Kasus Pemilu Romania
Sumber: Ancaman Siber Global: Pelajaran Dari Kasus Pemilu Romania Bagi Ketahanan Siber Indonesia





