Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) menekankan pentingnya pemerintah mengambil langkah strategis untuk memperkuat industri baja nasional. Mereka menyoroti peran sektor baja sebagai fondasi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 8 persen. Sekretaris Jenderal PB HMI, Muh Jusrianto, mengungkapkan kekhawatiran terhadap tahun deindustrialisasi prematur di Tanah Air. Menurutnya, produksi baja dalam negeri masih terbatas, menyebabkan ketergantungan tinggi pada impor baja, terutama dari Tiongkok. Hal ini semakin diperparah dengan penerapan tarif tinggi untuk impor baja di Amerika Serikat yang mendorong produsen China mencari pasar alternatif seperti Indonesia.
PB HMI menegaskan bahwa pemerintah harus memperkuat ketahanan industri dengan pendekatan sistemik. Mereka mendesak penyusunan peta jalan industri baja nasional yang terintegrasi dengan kebijakan perdagangan, energi, investasi, dan teknologi. Tujuan utamanya adalah agar produksi baja nasional dapat memenuhi kebutuhan domestik dan diekspor secara global. PB HMI juga mendukung penuh PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dalam mewujudkan kemandirian industri baja. Mereka mendorong sinergi antara BUMN strategis dan swasta nasional serta perbaikan internal dalam tubuh Krakatau Steel.
PB HMI berharap pemerintah dapat bertindak sebagai fasilitator, pelindung, dan pendorong kemajuan industri baja. Mereka menekankan pentingnya peran Krakatau Steel dalam mendorong reindustrialisasi nasional. PT Krakatau Steel sendiri merupakan perusahaan manufaktur baja terintegrasi yang berkomitmen pada transformasi perusahaan. Transformasi ini mencakup peningkatan kinerja, membangun kepercayaan dengan pemangku kepentingan, serta menarik investor. Dengan langkah strategis dari pemerintah dan dukungan penuh dari PB HMI, diharapkan industri baja nasional dapat menjadi kuat, mandiri, dan kompetitif dalam skala global.





