Militer Israel mengakui telah dengan sengaja menyerang konvoi ambulans yang membawa korban luka dari Rumah Sakit Al-Shifa di Jalur Gaza ke gerbang penyeberangan Rafah agar bisa dirujuk dan mendapatkan perawatan di Mesir. Israel menuduh terdapat anggota Hamas dalam konvoi tersebut.
“Dalam konvoi tersebut, kami mengidentifikasi sel teroris Hamas yang menggunakan ambulans. Sebagai tanggapan, pesawat IDF menyerang dan menetralisir teroris Hamas yang beroperasi di dalam ambulans,” kata IDF melalui akun resminya, Jumat (3/11/2023).
Militer Israel menekankan bahwa wilayah Gaza saat ini adalah zona perang dan warga sipil telah beberapa kali diminta untuk mengungsi ke arah selatan demi keselamatan mereka sendiri.
Pada Jumat lalu, jet tempur Israel melancarkan serangan udara ke gerbang Rumah Sakit Al-Shifa di Jalur Gaza. Konvoi ambulans yang hendak membawa korban luka ke gerbang penyeberangan Rafah untuk dirujuk ke Mesir juga menjadi target serangan dari jet Israel.
“Jet tempur Israel menembaki pintu masuk utama Rumah Sakit Al-Shifa, termasuk ambulans yang berada di lokasi kejadian, yang mengakibatkan puluhan orang terbunuh dan terluka. Korban termasuk puluhan orang sakit dan terluka beserta keluarga mereka, paramedis, dan pengungsi yang mencari perlindungan setelah rumah mereka dibom,” tulis laporan berita Palestina, WAFA.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sedikitnya 13 orang tewas dan 26 lainnya luka-luka akibat serangan Israel ke Rumah Sakit Al-Shifa dan konvoi ambulans tersebut. Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengutuk serangan tersebut dan menyatakan keprihatinannya atas adanya serangan terhadap ambulans yang sedang mengevakuasi pasien.
Hingga Jumat lalu, jumlah korban tewas akibat agresi Israel di Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai lebih dari 9.200, dengan 70 persen di antaranya adalah anak-anak, perempuan, dan lansia. Sedangkan jumlah korban luka mencapai 22 ribu orang dan lebih dari 1 juta warga Gaza terlantar dan mengungsi akibat agresi Israel tersebut.





